Safari Maulid Nabi Ranting NU Pokoh Kidul bersama Gus Ali Mastudi

Safari Maulid Nabi Ranting NU di Dusun Karangtalun, catat mengenal lebih dekat silsilah Rasulullah SAW.

Wonogiri–Ratusan umat Islam di wilayah Pokoh Kidul menghadiri Safari Maulid Nabi Ranting NU Desa Pokoh Kidul, Sabtu (22/8/2026), di dusun Karangtalun. Agenda itu menghadirkan Gus Ali Mastudi Pengasuh Majelis Al Muhtada Pracimantoro.

Ketua Ranting NU Pokoh Kidul, Suratmin Aziz mengucapkan terima kasih kepada jamaah yang antusias untuk mengikuti Safari Maulid Nabi kali ini. Dalam kegiatan safari kali ini sekaligus bertepatan hari ulang tahun RI ke 81, yang menambah rasa syukur kita untuk mencintai negeri melaui kegiatan ini,imbuh nya.

Ketua MWC NU Kecamatan Wonogiri, Ahmad Basori dalam sambutannya mengapresiasi warga yang begitu antusias dalam kegiatan Safari Maulid. Beliau juga mengutip sebuah hadist “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai”, semoga kehadiran kita adalah tanda cinta kita pada Rasulullah SAW.

Pada mauidhoh hasanahya, Gus Ali Mastudi menyampaikan silsilah nabi dalam kitab barzanji yang diiringi musik dari Hadroh Ikhlas Hati. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw datang membawa agama Islam untuk Hidayah dan Sa’adah.

Gus Ali Mastudi juga menyampaikan sebuah hadis,الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ artinya seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai”. Hal ini diceritakan seorang badui bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang kapan hari kiamat terjadi? Nabi balik bertanya tentang apa persiapan orang tersebut untuk menghadapi hari kiamat. Orang itu menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak amal besar berupa puasa atau salat sunah yang banyak, tetapi ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa ia akan bersama orang yang dicintainya.

Dalam majelis sholawat ini Gus Ali Mastudi mengajak meneladani akhlak Rasulullah SAW melalui kisahnya mengisahkan adanya sebuah suku yang dikenal sangat memusuhi Nabi, yakni Suku Mudhor, yang terlepas dari masa paceklik selama tujuh tahun setelah bertawasul kepada Nabi Muhammad. “Syahdan, Suku Mudhor dikenal sebagai suku yang sangat memusuhi Nabi saw. Suku ini dipimpin oleh seorang penyair bernama Labid ibn Rabiah. Sebagai penyair, Labid sering membuat syair-syair yang menghina dan melecehkan Nabi saw. Atas perlakuannya kepada Rasulullah tersebut, lanjut Gus Ali Mastudi, mereka diberi teguran oleh Allah berupa masa paceklik yang berlangsung selama tujuh tahun lamanya.
Diceritakan, kebun-kebun telah mengering. Tiada tumbuhan yang bertahan, melainkan kaktus dan rerumputan yang tak bisa dimakan. Hewan ternak banyak yang mati. “Para gadis menjadi jelek karena bibir mereka pecah-pecah akibat kekurangan cairan. Kaum ibu tidak dapat menyusui bayi mereka, karena payudara mereka tidak dapat mengeluarkan ASI. Para jagoan suku Mudhor pun menjadi kurus kering, lunglai, dan tak punya tenaga,” ungkapnya. Menyadari kesalahannya, mereka datang kepada Rasulullah untuk menceritakan derita paceklik yang mereka alami dan menyampaikan permohonan maaf serta meminta belas-kasihan (rahmat) darinya.
Sebagai pemimpin suku yang sekaligus seorang penyair, Labid menyampaikan permohonannya melalui syair yang berbunyi sebagai berikut
Kami datang kepadamu, wahai manusia terbaik di muka bumi ini, agar engkau memberikan belas-kasihan (rahmat) kepada kami, karena kami sedang dilanda paceklik yang sangat parah. Kami datang kepadamu, melaporkan bahwa gadis-gadis kami kini jadi jelek. Bibir mereka pecah-pecah karena kekurangan air. Para ibu tidak bisa menyusui bayi-bayi, karena payudara mereka kempes tak berisi susu.
Para jagoan kami kini menjadi lemah. Mereka tidak berdaya karena kelaparan, tidak ada makanan, yang manis ataupun yang pahit. Di kampung kami, tidak ada makanan yang layak kami makan. Yang ada hanya pohon kaktus dan rumput yang beracun. Tidak ada orang yang pantas untuk kami berlindung kecuali engkau. Ke mana lagi manusia akan meminta perlindungan kecuali kepada sang Rasul? Berdoalah untuk kami agar hujan turun di kampung kami. Maafkanlah kami. Kami sangat berharap langit menurunkan air hujan agar kampung kami kembali subur seperti sedia kala.
Mendengar ungkapan Labid,lanjujut Gus Ali Mastudi, Nabi Muhammad menitikkan air mata. Dengan segera Nabi mengangkat tangan dan berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. “Selesai Nabi berdoa, kontan hujan turun di kampung mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *